 | Salam... | Dec 3, 2007 |
Bismillahirrahmanirrahim... Selamat datang di 'rumah' saya. Karena saya penyuka novel, penggila jalan-jalan dan sedang suka dengan fotografi, so, rumah saya ini akan banyak diwarnai dengan cerita-cerita tentang novel yang saya baca, tempat yang saya kunjungi dan hasil lirikan mata lensa saya :) Tak perlu ngintip, silahkan masuk saja, kalo perlu tinggalkan jejak ya.. Pernah dengar puisi yang melegenda ini?
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Puisi karya Bapak Sapardi Djoko Damono yang saaaangat romantis ini jadi semakin romantis saat dimusikalisasi oleh Reda Gaudiamo dan Ari Malibu. Keren, cool, romantic, mantabs, fantastic, awesome, empat jempol, pokoknya semua pujian deh buat mereka. Dan Saya beruntuuung skali bisa bertemu langsung dengan pengarang dan penyanyinya di event yang sama. Ya, minggu ketiga di bulan Juni ini Makassar dipenuhi oleh sastra dan puisi-puisi indah yang dibacakan langsung oleh para penulisnya.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah berharap, kapan ya.. Makassar punya acara seperti Ubud Writers and Readers Festival. Bisa bertemu, mendengarkan langsung karya tulis yang dibacakan oleh penulisnya dan syukur-syukur bisa ‘mencuri’ ilmu dari mereka. Tiba-tiba tiga bulan lalu, seorang teman mengumumkan lewat status facebooknya, kalo di bulan Juni 2011 ini, akan ada Makassar International Writer Festival (MIWF) yang pertama, langsung doong saya menawarkan diri untuk menjadi volunteer, pucuk dicinta ulam pun tiba nih. Alhamdulillah..

Festival ini berlangsung selama lima hari, 13 – 17 Juni 2011, dan merupakan program pertama Rumata’ Artspace, sebuah Rumah Budaya yang tahun lalu didirikan oleh Riri Riza dan Lily Yulianti Farid. Bekerja sama dengan Writers Unlimited yang berpusat di Hague, Belanda, MIWF menghadirkan 6 penulis asing ; Ton Van De Langkrius (Nethertland), Judith Uyterlinde (Netherland), Abeer Soliman (Egypt), Gunduz Vassaf (Turkey), Maaza Mangiste (Eithopia) dan Rodaan Al Galidi (Iraq) serta 8 penulis Indonesia : Hendra Gunawan (Makassar), Shinta Febriany (Makassar), Hamran Sunu (Makassar), Erni Aladjai (Banggai), Sapardi Djoko Damono (Jakarta), Khrisna Pabichara (Jakarta), Fauzan Mukrim (Jakarta), Trinity (Jakarta) serta Pendiri dan Direktur Ubud Writers and Readers Festival, Janet deNeefe.

Kegiatan festival dibuka dengan pembacaan beberapa karya sastra dari penyair dan penulis Indonesia di beberapa stasiun Radio di Makassar. Selama kurang lebih dua jam, Makassar di’banjiri’ puisi-puisi dan karya sastra indah. Di hari yang sama, MIWF 2011menghadirkan Forum Indonesia mengajar untuk berbagi pengalaman dalam membuat Bookcraft pada sebuah workshop. Juga menghadirkan Ibu Restu Imansari, salah seorang inisiator pementasan teater I La Galigo, pada workshop “The Making of I La Galigo". Selain itu Riri Riza sebagai punggawa acara ini juga membagi ilmunya lewat workshop “Adaptasi Sastra ke Sinema”.
Tidak hanya workshop-workshop, para penulis juga di’ajak’ berdikusi dan berbagi puisi dengan komunitas nelayan di daerah Galesong dan Pulau Barang Lompo. Peluncuran Buku The Naked Traveler (TNT3) yang sempat ditarik juga ada di festival ini. Di festival ini pula diputar sebuah film “Tribute to Muhammad Salim”, sebuah film yang dibuat untuk mengapresiasi Alm. Bapak Muh. Salim yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan Sureq I La Galigo. Sebelum pemutaran film beberapa penulis termasuk Bapak Sapardi Djoko Damono membacakanbeberapa puisi yang diangkat dari cerita Sureq I La Galigo.
Tim MIWF mengemas festival ini dengan sangat menarik dan komunikatif serta bernuansa lokal seseuai temanya "Merayakan dunia kata-kata denga warga lokal". Betapa tidak ketika Rodaan Al Galidi seorang penyair asal Iraq membacakan puisinya dalam bahasa Belanda langsung diterjemahkan oleh Krisna Pabichara ke dalam bahasa Makassar, bukan diterjemahkan begitu saja, tapi Krisna dengan gayanya mampu mengaduk-aduk emosi penonton, sampai-sampai Rodaan harus membacakan empat buah puisinya untuk memenuhi rasa tak puas penonton.

Selain itu, saya sempat mewek ketika Abeer Soliman, seorang story teller dari Mesir membacakan penggalan ceritanya yang berjudul “Jam Pelajaran Agama”. Dengan bahasa Arab yang terdengar merdu dan gaya berceritanya yang memukau, Abeer berhasil membuat saya dan para penonton berkaca-kaca (halah). Penggalan novelnya ini bercerita tentang pertemanan dua orang anak kecil yang berbeda keyakinan. Sungguh, Abeer seorang story teller yang keren abis dan sungguh bahasa Arab itu memang benar-benar indah.

Setelah pembacaan puisi, acara keren selanjutnya adalah “Debat antara Penulis dan Politikus”. Acara yang menghadirkan tiga orang anggota DPRD di Sulsel ini diinspirasi dari acara debat pemacing ikan dan penyair di Darwin. Masing-masing kubu diberi sebuah kata yang harus mereka buat menjadi sebuah kalimat atau paragraph. Para politisi diberi kata-kata yang biasa digunakan para penyair seperti “hujan”, sementara para penyair diberi kata-kata yang sering diungkapkan oleh para politisi seperti “ kesejahteraan”. Acara ini menarik begitu banyak penoton, abang-abang becakpun yang ada di sekitar Museum Kota Makassar, main venue MWIF, tak mau ketinggalan. Dari hasil debat, ternyata beberapa politisi berbakat jadi penyair dan beberapa penyair cocok jadi politisi saat menjual janji-janji kampanye, hehehe..
Festival ini ditutup dengan acara “United Nation of Fish”, sebuah acara makan malam penggalangan dana untuk Rumah Budaya Rumata’. Janet deNeefe mendapat giliran di malam ini untuk bercerita lewat filmnya bagaimana ia membuat masakan dari ikan. Film bermula saat Janet mengunjungi tempat pelelangan ikan dan pasar tradisional di Makassar dan berakhir saat Janet membuat masakan di dapur Restoran Djuku. Setelah Janet, para penulis asing satu persatu menceritakan bagaimana ‘kisah’ ikan di negara mereka masing-masing.
Acara diakhiri dengan penampilan Duo keren Reda dan Ari yang menyanyikan beberapa puisi Sapardi Djoko Damono, yang membuat semua yang hadir ikut bernyanyi bahkan ada yang menari dan berdansa :)
Dan karena saya manusia Juni, favorit saya tentu yang ini :
"Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan juni Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan juni Dibiarkannya yang tak terucapkan Di serap akar pohon bunga itu"
Duh..mewek lagi saia :D
Mungkin betul kata orang, bulan Juni adalah bulannya orang-orang romantis (Eh, Gemini itu bukan hanya juni kaleeee..). Trima kasih ya Allah telah menghadirkan saya di dunia ini pada bulan Juni (apa hubungannya ya :D).
Smoga Juni tahun depan kembali mempertemukan saya dengan MIWF.
Meski sudah semiggu berlalu, virus TEDx Makassar, masih terus bertebaran di mana-mana :)
Selasa, dua puluh satu Juni dua ribu sebelas akhirnya datang juga. Ya, hari ini menjadi penting bagi saya dan teman-teman di kantor, karena hari ini kami punya event tahunan yang cukup besar, TEDx. Tau TED kan? Kalau masih belum tau bisa cekidot di sini.
Sejak pagi suasana persiapan di kantor kami, BaKTI, sudah mulai terlihat. Semua orang terhipnotis dengan eforia (halah) event ini.
  Event TEDx ini adalah yang kedua kalinya diadakan di Makassar, kalo tahun lalu bertema Komunikasi, tahun ini bertema Inspiring youth, dengan menghadirkan pemuda-pemudi Makassar yang punya segudang prestasi dan layak ditularkan.
 Karena mengambil tema “pemuda”, kantor kami pun diwarnai dengan ‘pernak-pernik’ pemuda, salah duanya adalah para undangan yang datang disambut dengan atraksi pembuatan graffiti di areal parkiran kantor, seorang undangan sempat nyeletuk, "wah BaKTI rela ya temboknya digraffiti–kan" Hehehe.. Trus setiap undangan di’paksa’ untuk berfoto di red carpet, sebelum masuk ke areal utama TEDx, tak jauh bedalah dengan ajang oscar di Amrik sono :D
  
TEDx Makassar Inspiring youth dibuka dengan penampilan Ariel, seorang pelajar kelas dua SMA yang bersuara emas, dengan dua buah lagu, diiringi gesekan biola.
 Dengan digawangi dua MC, pemuda 1960-an dan pemudi tahun 2100, TEDx mulai menampilkan speaker-speakernya yang keren.
 Adalah Shanti Riskiyani, seorang dosen muda di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS, yang aktif mendampingi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) menjadi speaker pertama. Dua tahun lalu Shanti mendirikan Makassar Harm Reduction Community dan berjuang mengurangi penularan HIV/AIDS di kalangan remaja Makassar. Intinya, Shanti mengajak para pemuda untuk tidak memandang sebelah mata bahkan menjauhi para ODHA.
 Setelah Shanti, ada Hardinansyah a.k,a Ardy Chambers, owner dari salah satu distro atau meminjam istilah keluarga Ardy, toko “penjual baju” terkenal di Makassar. Ardy membeberkan sekitar 15 pertanyaaan dari ratusan pertanyaan yang sering ditemuinya, baik pro maupun kontra dalam menjalankan bisnisnya.
 Selanjutnya ada dua gadis kecil Asriani dan Zayyan. Asriani, lewat foto-foto hasil bidikannya, menceritakan kehidupan orang-orang di tepi kanal, yang penuh dengan sampah orang-orang kota Makassar. Ia berbagi cerita bagaimana ia dan teman-teman kecilnya menghabiskan hari-harinya bermain di tepi kanal. Meski masih kecil, Asriani berhasil menjadi story teller yang keren malam itu.
Zayyan, membacakan cerpennya yang berjudul “ 3 Sahabat dan monster sampah”, cerita tentang anak-anak yang hidup di pinggir kanal, yang membuat saya dan hampir semua penonton tersenyum, terbahak, terhenyak bahkan tertohok. Betapa tidak, cerita yang disampaikan Zayyan sangat sederhana, namun sempat menohok saya yang seringkali protes melihat sampah di mana-mana, tapi baru bisa peduli dengan sampah sendiri.
 Usai jalan-jalan di pinggir kanal Makassar, penonton diajak diajak jalan-jalan oleh Agung Firmansyah ke sebuah sekolah dasar di Dusun Tatibajo Majene, Sulawesi Barat. Pemandangan di SD tersebut saaaangatt indah, karena bisa melihat laut dan gunung dari tempat yang sama. Tapi jarak dari desa ke SD ini juga saaaangatt jauh dan medan yang ditempuh pun cukup sulit karena harus melewati sungai yang jika musim hujan arusnya cukup deras, sehingga kadang-kadang murid-murid Agung memilih untuk bolos. Mengapa Agung Firmansyah, seorang pemuda asal Surabaya, penyandang gelar kesultanan eh gelar sarjana komputer dari Universitas Indonesia, mau ‘membuang’ dirinya jauh-jauh ke remote area di Majene? “Kan enak bisa liburan sambil digaji” kata Agung sambil memperlihatkan fotonya yang sedang berenang bersama anak-anak didiknya di sungai. “Selain itu mengajar itu adalah Ibadah praktis, pahalanya tak putus-putus, cocok banget bagi yang malas ibadah “ sambung Agung dengan gayanya yang super cool :D
Agung, yang menyebut dirinya Mas Guru adalah satu dari sepuluh pemuda dari Program Indonesia Mengajar angkatan pertama yang sejak November tahun lalu menjadi guru SD di Majene. Agung mencoba berbagi cerita serunya menjadi guru bagi anak-anak di Dusun Tatibajo, bagaimana ia 'menaklukkan' salah satu muridnya yang sangat 'aktif' sehingga disebut little monster, bagaimana triknya supaya tetap betah di daerah yang jangankan internet, sinyal handphonepun hanya ada di satu titik. Pokoknya prinsip kami "No Listrik no cry, No sinyal santaaiii..."
 "Cek mike..cek mike..cek mike, bagus ji kah ini mikenya?" Seru seorang gadis mungil berkacama mata tebal sambil memasuki panggung TEDx, dia adalah Dian Aditya Ning Lestari, Mahasiswa Universitas Indonesia, salah seroang co-founder Indonesian Future Leader (IFL), yang punya prestasi diberbagai lomba debat nasional maupun internasional. Dian yang biasa dipanggil Diku, menceritakan mimpi-mimpi dan apa yang mereka kerjakan di IFL. "Intinya kalo mau ki sukses jadi me ki diri ta sendiri", kata Diku menutup presentasinya.
Pemuda inspiring selanjutnya adalah Yuli Taniadji, seorang urban planner yang pulang kembali ke kampung halamannya, Makassar, karena mempunyai cita-cita yang besar untuk kota ini. Yuli mencoba berbagi pengalaman yang ia dan teman-temannya lakukan untuk Kota Bandung, Ia menceritakan bagaimana usaha mereka mencegah keinginan pemerintah kota Bandung yang berniat ‘mengganti’ sekitar 500 bangunan bersejarah di Bandung. Menurut kacamata ‘urban planner’nya, ada yang kurang tepat dengan pembangunan di Makassar, ruang terbuka hijau untuk publik masih sangat sedikit di Makassar . “Makassar ini kota ta, kalo mau ki ubah, mulai mi suarakan sekarang”, kata Yuli menutup sesinya.
 Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, waktu yang dijadwalkan untuk mengakhiri acara ini. Namun sebagian besar penonton masih betah tah tah duduk di kursinya.
Terlebih saat Sese Lawing, pembicara terakhir, naik ke panggung bersama sebuah gitar. Ini mau menularkan virus atau mau ngamen ya? hehehe... Setelah membawakan sebuah lagu "Ero ka' ri Kau" (saya mau denganmu), yang langsung memukau semua penonton, Sese mulai menceritakan proses kreatifitasnya menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu, pemuda asal Jeneponto ini menceritakan bagaimana ia merantau ke Jakarta dan akhirnya bisa punya lagu sendiri. Dia memilih konsen pada lagu-lagu berbahasa Makassar yang dikemas dengan musik yang menarik di telinga kaum muda, orang-orang bilang dia adalah Jason Mraz-nya Makassar. Dan saya setuju dengan anggapan ini :)
Usai bercerita Sese menyanyikan lagi beberapa lagu, setiap usai bernyanyi, selalu terdengar teriakan-teriakan lagiii, lagii, one more, one more. Sese benar-benar sukses menularkan virusnya.
 Jam sudah menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit, pertunjukkan harus segara dihentikan meski sebagian besar masih belum mau beranjak. Alhamdulillah acara TEDx ini sukses..ses..ses..
  Satu yang saya tangkap dari anak-anak muda yang hadir di acara TEDx, malam itu mereka menjadi cinta (kembali) dengan budaya Makassar, khususnya lagu berbahasa Makassar. Virus Sese Lawing rupanya menular dengan cepatnya, saya saja yang tidak paham dengan bahasa Makassar, jadi sukaaa dengan smua lagu yang dinyanyikan Sese, ah.. Sese, Ero ka’ ri kau..
 
 Day two : 21 December 2010 Bangun pagi kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, lagu ini tentu bukan untuk saya, hehehe.. Mandi pagi di Iboih yang smalaman diguyur hujan tentu tidaaakkk, suhunya duiiiingiiinnnn boooo, apalagi hari ini saya akan ‘berendam’ di taman laut Rubiah selama setengah jam, so, ritual mandi pagi tak masuk agenda hari ini doong :D Pagi ini saya dan sepuluh orang divers dari Malaysia akan mencoba dive di di perairan Iboih. Setelah menyantap sarapan berupa nasi goreng yang di siapkan Mak Erik, saya menuju Rubiah Dive Center. Sampai di Rubiah Dive center, saya mencoba kembali dive gear yang sudah disiapkan sewaktu saya mendaftar kemarin sore. Untuk dive di sini, harganya 25 euro untuk satu kali dive, tapi karena saya orang Indonesia, dan kata si Bapak (duh, lupa namanya) pemilik Dive Center, jarang orang Indonesia yang datang untuk dive, saya dikasih harga 200 ribu ^.^ Ternyata saya tak jadi ikut rombongan, syukurlah, secara saya ini masih baru di dunia selam-menyelam, ngeri juga je’ kalo ikut. Saya diikutkan di grup yang lebih kecil, bersama seorang peselam lainnya, yang juga dari Malaysia, Michele. Michele ini mau ngambil selam rescue, waahh… amat sangat beda dengan saya yang baru beberapa kali menyelam :D.
Bertiga dengan seorang buddy, kami menuju lokasi dive kami, Pulau Arus Balik, dekat Pulau Rubiah. Jaraknya cuma 10 menit dari dermaga Rubiah Dive Center. Duuuh, kok nama pualunya ngeri gitu. Menurut si buddy, tempat ini memang tempat berbaliknya arus, ditandai dengan sebuah batu besar, batu besar inilah yang disebut pulau arus balik. Deg..deg.. deg..perasaan tak nyaman tiba-iba menyergap, saya langsung ngomong ke buddy jangan jauh-jauh dari saya ya, Michele kan sudah jago :D. Setelah Michele back roll, kini giliran saya. Sukses back roll, tapi saya tak sukses ‘turun’, arus sangat keras menghempas saya, meski saya coba ‘turun’, tetap saja tak sukses, padahal ikan yang berwarna-warni dan karang sudah nampak di bawah sana, saya coba sekali lagi, tetap saja gagal, perasaan saya juga tetap tak nyaman. Akhirnya saya memberi kode ke buddy saya untuk naik. Perasaan tak nyaman di awal tadi, mungkin sebuah tanda, akhirnya dengan ikhlas saya cancel dive saya hari itu. Tak apalah, mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa ke sini lagi dan merasakan keindahan laut Iboih. Batal dive, saya diajak supir kapal untuk keliling Rubiah, pemandangan di sini benar-benar eksotik, dari atas kapalpun karang dan ikan-ikan di bawah sana bisa kelihatan, airnya begitu jernih. sayangnya karena tadinya niat mau dive, saya tak bawa kamera, takut kecebur air.
Jam 11 saya balik ke Green House, jam 1 siang ini saya harus ke Sabang kalo tak mau ketinggalan kapal Rondo ke Banda Aceh. Sebelum pamit, saya sempatkan foto-foto dengan Mak Erik dan cucunya :D
Nah, kalo dari Iboih menuju sabang tak perlu me-rental mobil, karena setiap hari ada mobil yang menuju kota, mengantar para tamu-tamu yang nginap di sini. Bayarannya lebih murah, hari itu meski cuma saya penumpangnya, saya cuma bayar 50 ribu, harga yang sama persis jika mobil penuh penumpang. Sekitar jam tiga saya tiba di pelabuhan Balohan, ternyata loketnya belum buka. Sambil menunggu loket buka, saya mencoba onlen, karena di pelabuhan ini ada wifi-nya, keren ya.. Setibanya Di Pelabuhan Ule Lheu saya sudah ditunggu oleh ojek yang kemarin mengantar saya ke sini. Si Abang mengantar mencari hotel murah di Banda Aceh, tujuan pertama saya adalah hotel Lading, yang menurut LP harga permalamnya paling murah 22rb, karena LP ini terbitan tahun 2003, yaa saya mengira-ngira harga saat ini sekitar 10 kali lipatlah. Ternyata pas tiba di hotelnya, harga yang paling murah adalah 300rb, bukan budget backpacker tentunya, padahal hotelnya sesuai dgn keinginan saya, karena dekat Masjid Bairurrahman.
Akhirnya saya minta si Abang untuk cari hotel lain, sama si Abang saya diantar ke Hotel Raya di Jl. Ujong Rimba, awalx agak kaget juga, ini penginapan atau kos2an ya? Mana di sana sini banyak kulit semen dan balok2 kayu, seperti bangunan yang belum selesai. Lantai lobi hotel pun masih berlantai kasar. Tapi karena tak enak sama si Abang ojek yg sudah rekom ni hotel, saya masuk aja, langsung menayakan harga. Harganya sih, masuk budgetlah, 100rb, tapi liat kamar dulu ah. Setelah ngecek kamarnya, ternyata kamarnya lumayan bagus, masih baru, kamar mandi dalam-meski pintunya hanya sebuah gorden, tak apalah, dalam kamar ini. Akhirnya Si Abang menurunkan barang2 saya di hotel ini. Sayup-sayup terdengar suara adzan, ternyata eh ternyata ni sekitar hotel hanya 400 meter dari Masjid Baiturrahman, dan cuma sekitar 300 meter dari lapangan Blang-Bintang, lapangan utama di Banda Aceh. Alhamdulillah, kalo sudah niat insya Allah pasti ada saja jalannya. Setelah bersih-bersih saya langsung menuju Masjid Baiturrahman, Icon Nangroe Aceh Darussalam, mau merasakan ‘kencan’ di sana. Masjid ini dahulunya merupakan Masjid Kesultanan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, Masjid ini dibakar. Pada tahun 1875 Belanda membangun sebuah masjid sebagai penggantinya. Pada awal dibangun, masjid ini hanya memiliki satu kubah, kemudian pada tahun 1935 diperluas menjadi tiga kubah, terakhir diperluas lagi menjadi lima kubah pada tahun 1959 hingga 1986 (sumber : wikipedia). Pada saat bencana tsunami mengguncang Banda Aceh, masjid ini tetap kokoh dan menjadi salah satu tempat berlindung warga Banda Aceh. Usai ‘kencan’ dengan sang Khalik, waktunya mengisi kampung tengah. Mumpung di Aceh, saya mau mencoba ayam tangkap, makanan khas Aceh yang terkenal itu. Namun karena tempat yang direkomendasikan cukup jauh, dan saya merasa kurang safe jalan sendiri di malam hari untuk tempat yang jauh, akhirnya saya menuju Jl. Panglima Polem mencari warung Mie Razalie yang terkenal dengan mie Acehnya. Karena tak ada angkot, dari penginapan saya naik becak yg harganya mayan mahal, 20 ribu sodara2. Sepanjang perjalanan, saya mencoba menghafal rute si abang becak, kali aja pulangnya bisa jalan kaki. Hehehe.. Suasana warung mie razali malam itu ruammeee, saya dapat meja paling luar dekat banget sama orang lalu-lalang. Disini, selain mie ada juga nasi goreng tapi yang terkenal ya mie kepitingnya. Ada mie goreng kepiting, ada juga mie kuah kepiting. Karena pengen yang berkuah saya memilih mie kuah kepiting. Mie Kuah kepiting ini disajikan dengan emping melinjo plus acar dengan satu ekor kepiting yang lumayan besar. Rasanya..???? lezaaaaaaaattt, setetes kuah pun tak tersisa :D. Harga seporsinya 33 ribu, mahal siiyy, tapi sesuailah dengan rasanya Usai menyantap mie Aceh, saya saya mencoba jalan-jalan kompleks pertokoan Jl. Panglima Polem, setelah berjalan beberapa menit, dari jauh nampak kubah Masjid Baiturrahman, wah.. bisa jalan kaki nih ke penginapan. Ternyata eh ternyata Mie Razalie ini tidak begitu jauh dari penginapan saya, walaahh, coba tadi perginya jalan kaki juga, duit 20.000 bisa amaaan :D Cost :Penginapan : 100KNasi goreng : 15KBis ke Pelabuhan Balohan, Sabang : 50KTiket kapal kelas ekonomi : 60KBecak motor dari pelabuhan + keliling cari penginapan : 50KBecak ke mie Razali di Panglima Polem : 20KMie kuah kepiting : 33KAqua : 5K |  | Foto-foto di album ini adalah beberapa tempat dari sekian banyak tempat yang bisa dikunjungi di Makassar. Yang di maksud pusat kota dalam keterangan setiap foto adalah lapangan Karebosi (titik nol Makassar). Selamat menikmati, feel free to comment and Let's get lost in Makassar ^.^ |
Day One : 20 Des 2010Jam delapan tiga puluh pagi saya pamit menuju pelabuhan Ulee-Lheue dengan becak motor, sepuluh menit kemudian tiba di pelabuhan, penumpang tidak begitu banyak. Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya KM Rondo menarik sauhnya menuju pelabuhan Balohan Sabang. Kapal ke Sabang ada dua macam, Kapal cepat, seperti KM Rondo yang saya tumpangi dan Kapal Lambat. Perjalanan dengan kapal cepat butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk tiba di Balohan, sementara kapal lambat sekitar satu setengah jam. Mungkin karena lagi bukan musim liburan, penumpang kapal sangat sedikit, sayapun bisa memblok tiga kursi untuk rebahan 
Tiba di Pelabuhan Balohan, saya sudah dijemput Bang Midi, seorang supir yang direkom Rifa. Di Balohan ini tidak ada angkutan umum, ojek pun tak ada, jadi harus carter untuk ke kota Sabang apalagi ke Iboih. Dari Balohan ke kota Sabang butuh waktu sekitar dua puluh menit. Karena di Banda Aceh tadi tak sempat mampir di ATM, saya mampir di ATM BRI dulu, satu dari hanya dua bank yang ada di Kota Sabang.
Geografi di kota Sabang ini berbukit, pohon-pohon besar dan tua masih banyak di temui. Mumpung di Kota Sabang, saya mampir membeli t-shirt di Jl. Perdagangan yang merupakan pusat perdagangan kota Sabang. Ada beberapa toko yang menjual thirt Sabang & pulau Weh, harganya pun bervariasi mulai dari dua pulu lima ribu hingga tujuh puluh lima ribu. Di jalan-jalan saya banyak melihat mobil mewah, begitupun di garasi rumah, meski rumahnya biasa saja, tapi mobil yang diparkir, rata-rata mobil mewah je. Ini karena Kota Sabang merupakan kawasan zona ekonomi bebas Indonesia, jadi banyak mobil impor bekas yang masuk dari Singapura dengan harga murah, sayangnya, mobil-mobil ini tak boleh keluar dari kota Sabang.
Dari kota Sabang saya menuju Pantai Sumur Tiga, satu dari beberapa pantai cantik di Pulau Weh ini dan paling dekat dari Kota Sabang. Dinamakan Sumur tiga, katanya karena memang di kawasan pantai ini terdapat tiga buah sumur. Di Areal wisata ini terdapat cottage yang keren, dan gazebo. Perjalanan saya lanjutkan ke daerah paling barat pulau Weh, tempat si tugu kilometer nol.
Di perjalanan saya mampir membeli pisang yang banyak di jajakan di pinggir jalan. Pisang ini oleh-oleh untuk para monyet yang menurut Bang Pii banyak terdapat di hutan di sepanjang perjalanan.
Sekitar setengah jam, saya tiba di monumen Nol Kilometer, benar-benar di ujung pulau Weh, di sebrangnya membentang samudra Hindia. Tapi ternyata, pulau Weh ini bukan pulau yang paling barat di Indonesia, masih ada pulau Rondo di sebrang sana, tapi pulau ini hanya didiami oleh para tentara yang menjaga batas wilayah Indonesia. Monumen nol kilomenter sendiri diresmikan pada 9 September 1997 oleh Wapres Try Sutrisno. Sayangnya monumen ini kurang terawat, ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang meninggalkan jejak di prasasti monument ini, sok penting banget ya. Di sebrang monumen ini terdapat bukit tegel-tegel yang bertuliskan berbagai kenang-kenangan dari para pengunjung monumen ini, ada yang nulis nama, klub, asal daerah dan tulisan-tulisan lain sebagai bukti kalo mereka pernah ke tempat ini. O iya, di tempat ini tidak ada penduduk yang tinggal, yang ada hanya satu dua warung, jadi kalo mau ke sini untuk waktu yg lama, sebaiknya bawa ransum ya.
Setelah membuat ‘bukti’ bahwa saya juga pernah ke monumen nol kilometer ini, saya kembali ke arah timur pulau Weh, kali ini saya menuju Iboih, satu lagi pantai cantik di Weh. Setibanya di Iboih, saya langsung mencari Guest House Green punya Mak Erik. Karena daerahnya agak berbukit, jadi untuk menuju penginapan, harus sedikit mendaki, untungnya guest house punya Mak Erik ini tidak begitu jauh dari tempat mobil parkir. Harga permalam di guest house ini seratus ribu rupiah, kalo nginap dua malam bisa lebih murah, apalagi kalo lebih lama. Di Iboih ini, banyak penginapan, harga di bawah seratus ribu pun ada. Makanan juga mayan murah. Saat itu tamu mak Erik cuma saya, jadi saya bebas memilih kamar, yippiee. Saya memilih kamar yang di lantai dua karena view ke lautnya lebih oke dan akses ke kamar mandi lebih dekat. Guest house ini terbuat dari kayu, untuk kamar yang seratus ribu, kamar mandinya share, tempat tidurnya spring bed susun, trus dilengkapi kelambu yangg unik dan sebuah kipas angin. Suasana malam di Iboih sangaaat sepi, mana di kamar tak ada TV, untungnya saya bawa laptop jadi bisa nge-gamelah sedikit trus di Guest House juga ada perpustakaan mini, mayanlah bisa baca-baca sedikit :D.
Malam ini saya harus tidur cukup, karena besok rencana mau dive. Sebelum si mata menerima haknya, saya memenuhi dulu jatah si perut dengan mie kuah aceh buatan Mak Erik plus milo hangat, rasanya wuiiiiih pas banget dengan suasana Iboih yang diguyur hujan.
Cost :Becak motor ke Pelabuhan Ulee-Lheue :20KPas masuk pelabuhan :2KTiket kapal kelas ekonomi :60KMaksi di Sabang :15KRental mobil :200KMie kuah : 15KMilo panas : 4K Hari pertama, 19 Dec 2010
AK 305 membawa saya terbang kembali ke Indonesia setelah satu setengah hari melakukan ‘exercise trip’ di negerinya Datok Fernandes.Gara-gara tak bawa bacaan selain Lonely Planet (LP) trus ipod juga sudah sekarat, akhirnya saya mati gaya selama di pesawat. Sang mata juga tak meminta haknya, padahal malam tadi hanya dapat jatah tiga jam untuk terpejam, kaki juga tak memberi support padahal sejak jam 4.30 pagi sudah diajak hiking di bukit Broga selama tiga setengah jam. Bener-bener mati gaya semati-matinya. Heran, kemana semua rasa penat yang mendera selama perjalan ke LCCT? Mau order makan, ringgit di dompet saya hanya cukup buat sebatang coklat, kalo haus abis makan coklat gimana coba? Masa’ harus telan air liur?? Saya memang termasuk orang yang agak susah tidur dalam perjalanan, mungkin karena dalam keadaan duduk, jadi berasa tak nyaman untuk tidur. Sewaktu trip ke Toraja dua tahun lalu, karena semua bis sudah full, akhirnya saya naik panther (kendaraan ke Toraja umumnya bis, bukan kendaraan kecil) dan duduk samping pak kusir eh pak supir, berdua dengan teman, menambah rasa tak nyaman karena sempit tentunya. Karena perjalanan butuh waktu sembilan jam, akhirnya saya doping dengan antimo, jadi perjalanan tidak terasa, tanpa doping, mata saya akan melek se melek-meleknya. Tapi kali ini dopingya tak ikut serta je, jadilah selama satu jam dua puluh menit saya menghayalkan yang tidak-tidak eh, rencana perjalanan selama dua belas hari di Pulau Sumatera.Penerbangan kali ini tidak seramai sewaktu meninggalkan Makassar dua hari lalu, bangku tengah di seblah saya malah tak terisi. Tak seperti biasanya, meski banyak kursi kosong saya tak berminat pindah dan duduk di dekat jendela. Kali ini nafsu memotret tempat yang akan saya kunjungi dari atas pesawat, terbang entah kemana. Entah kenapa, saat itu terlintas di kepala saya, gimana kalo kursi yang dekat jendela itu ada ‘sesuatu’nya, hmmm.. jadi ingat pengalaman alm Munir. Tuh kan, jadi memikirkan yang tidak-tidak :DPukul lima sore lebih lima belas menit Alhamdulillah AA mendarat dengan mulus di Sultan Iskandar Muda International Airport. Airportnya masih kinclong, dua tingkat dan sudah menggunakan garbarata, airport ini di resmikan pada Agustus 2010. Setelah cap-capan di imigrasi, saya langsung cari taxi, fyi, di airport ini tak ada angkot atau ojek, satu-satunya pilihan transport ke kota hanyalah taxi. Taxinya borongan bukan argo. Berbekal pesanan dari teman, katanya kalo nawar taxi untuk ke kota Banda Aceh, paling mahal lima puluh ribu. Saya tak butuh waktu lama utk dapat taxi, meski awalnya si abang buka harga tujuh puluh ribu.Waktu buka pintu taxi, saya sempat kaget, ternyata drivernya perempuan, muda dan cantik pula. Tak seperti bayangan saya tentang Aceh (mangsudnyaa..??). Di perjalanan ke kota, sang driver cerita, kalo abang yang di airport tadi adalah suaminya, jadi mereka saling berbagi job dalam mencari penumpang, great family pikirku. Tapi pujian itu langsung luruh waktu sang driver ngomong tolong ditunjukkan jalannya ya Mbak, alamaaaakk, yang ada juga dia kaleee yang tau jalannya, secara supir taxi gitu.. Begitu masuk kota Banda Aceh, saya langsung menengok kanan-kiri, mencari sisa-sisa kekejaman tsunami. Bentuk kekejaman yang saya dapati adalah beberapa kuburan massal. Saya ditunjukkan dua lokasi kuburan massal, Ya Allah berilah mereka tempat yang layak di sisimu, Aamiin..Setelah tanya-tanya dan mentok sana-sini akhirnya kami tiba rumah Rifa, anak Couchsurfing (CS) Banda Aceh yang juga kerja di Makassar. Ya, malam ini saya numpang di rumah Rifa, sebelum ke Sabang besok pagi. Setelah makan malam yang ueenaakk, saya ngobrol-ngobrol dengan Ibunya Rifa, ternyata kawan saya ini juga punya cerita sedih tentang bencana tahun 2004 itu, ayah Rifa menjadi salah satu korban kekejaman tsunami padahal rumah mereka termasuk daerah yang tidak di’singgahi’ air bah. Yah, semua sudah jadi kehendak-NYA.cost : Akomodasi di Kuala Lumpur : Free (many thanks to Qima) Akomodasi di Banda Aceh : Free (many thanks to Rifa and Family) Taxi ke rumah Rifa : Rp. 50K Afdhal bangun, Afdhal bangun..Afdhal banguuuunn..Duh, rasanya ni mata baru saja terpejam, tapi bukit Broga sudah memanggil-manggil  . Jam 4 dini hari, kami menyosong hari, halah. Subuh eh dini hari itu adalah trip saya yang terakhir di Kuala Lumpur, hiking ke Bukit Broga, padahal selama di Indonesia jarang banget olahraga apalagi hiking. Beberapa bulan belakangan, Bukit Broga menjadi destinasi favorit anak-anak muda KL, sebuah bukit yang terletak di perbatasan Negeri Selangor dan Negeri Sembilan, Kuala Lumpur. Di bukit ini kita bisa melihat matahari terbit dan sebagian kota Kuala Lumpur. Setelah bermobil selama kurang lebih 40 menit dan sempat tersesat, secara masih subuh buta, akhirnya kami tiba di sebuah perkebunan kelapa sawit. Areal perkebunan ini disulap jadi parkiran mobil orang-orang yg akan ke Bukit Broga, waktu kami tiba, mobil-mobil sudah ruaamee, mungkin karena hari minggu, jadi banyak pengunjung. Jreng..jreng..jreng.. mari kita mulai hiking. O iya, tim hiking kami ada empat orang, Qima, Noor Alifah dan Azhar, yang juga anak MBC. Baru berjalan lima menit saya sudah ngos-ngosan, keliatan banget kalo jarang olahraga ato faktor umur kah? hehehe. Hiking di waktu gelap pastinya ribet, mana jalannya licin dan menanjak, wuiiiiih.. beeeraaattt, kayaknya tiap sepuluh menit saya bertanya ke Qima, masih jauh? dan jawaban Qima selalu sama, liat saja cahaya yang di puncak sana, huaaaa.. pengen nangis rasanya, tapi untuk balik ke parkiran tak mungkin lah yaw.
Setelah jalan, istirahat, jalan, istirahat dan jalan lagi kami tiba di puncak empat puluh lima menit kemudian. Kami melihat beberapa kelompok yg nge-camp di sini, dan ternyata eh ternyata, ini masih puncak yang pertama belum puncak yang utama, ho..ho..ho.. Kalo mau pemandangan yang lebih okeh harus ke puncak utama pastinya. Ayoo, kamu bisaaa, saya cuba menyemangati diri saya, alhasil lima belas menit kemudian kami tiba di puncak utama disambut teriakan, BERJAYA..BERJAYA.. (baca : sukses ) dari teman-teman grup hiking lainnya, yang sudah lebih dulu tiba. Setelah mencari posisi wuenak, saya mulai memasang tripod, mencari angle yang bagus untuk foto, di sudut-sudut lain juga sudah nampak tripod-tripod.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit tapi tak ada tanda-tanda matahari akan
terbit. Tik..tik..tik bunyi hujan di atas batu, yaaah....yang ditunggu matahari yang datang malah rinai hujan acara menjemput matahari hari itu gagal maning rek, untunglah pemandangannya cakep, jadi rasa kecewa cukup terobatilah. Usai foto-foto waktunya turun, tak boleh berlama-lama karena jam 12 saya sudah harus ke airport. Dan turun ini ternyata tidak lebih gampang dari naik tadi sodara-sodara, karena jalan semakin licin akibat hujan, kami sempat mendapat tontonan gratis orang-orang yg jatuh atau tergelincir, ngeri juga je'.
Alhamdulillah tim kami tiba di parkiran dengan selamat, safe and sound . Sebelum balik ke Ampang, kami mampir ke kedai mamak, menyegarkan kerongkongan dan perut Sepertinya memang sudah digariskan, trip ke KL kali ini adalah trip untuk persiapan solo backpacking selama 12 hari di Sumatera. Perjalanan menempuh 10 kota dengan jalan darat memang memerlukan stamina yang wokeh.1,5 hari di KL diisi dengan ‘exercise’, hari pertama mendaki puncak ‘bukit tinggi’, Hari kedua hiking ke bukit Broga, benar2 persiapan yang beeraatt  Jam 12, diantar Qima dan Nik, saya menuju LCCT airport, the real backpacking sudah menanti di depan mata. Thanks a lot Qima dan Nik for your hospitality during my trip in Kuala Lumpur, you’re the best guide ever  Selamat pagi Kuala Lumpur, pagi itu saya dikenalkan dgn teman se-apartemen Qima, Nik Nadiani, smalam tak sempat ketemu soalnya doski sudah tidur pas kami tiba. Nik ini satu kampung dengan Qima, mereka juga dulunya satu SMA di Kelantan, appaahhh…?? Ke..ke..kelantan..?? Itu kan kkkampungnya si siapa teh namanya? Halah, ga penting :DSambil sarapan ala bujang (istilah Qima untuk sarapan yg tak kumplit, padahal sarapannya kopsus + brownies + bolu gulung) kami eh mereka berdua ding, sibuk bikin puding, katanya si Nik ini expert of puding, hmmm, tak sabar ingin makan hasilnya.Puding udah masuk kulkas, kita-kita juga sudah pada bersih dan wangi (halah) saatnya jalan-jalaaan. Hari itu tujuan kami adalah Bukit Tinggi. Tuh kan, masih saja menganggap Malaysia ini adanya di Sumatra, hehehe.. maap sodara-sodara, ternyata di KL ini ada juga daerah yang namanya Bukit Tinggi, sebuah tujuan wisata baru di Kuala Lumpur yang letaknya searah dengan Genting high Land. Setelah menepuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam kami tiba di Bukit Tinggi, wuiiihh, duingiinnn…, yeee namanya saja di Bukit Tinggi, ya pasti dinginlah.Di Bukit Tinggi ini ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, seperti peternakan Kelinci, Japanese tea garden, botanical garden, dan yang paling rame adalah Colmar Tropical, sebuah resort yang bertema Prancis. O iya, tiket masuknya RM 12. Karena bertema Perancis, smua bangunan di Colmar berarsitektur Eropa, di pintu gerbangpun kita di sambut dengan noni-noni yang berbaju tradisional Prancis, eh tapi kok mirip Belanda ya?Kalo suka fotografi, tempat ini pas banget. Untuk jalan-jalan dan poto2 di Colmar ini, sejam sudah cukuplah, karena lokasinya tidak begitu luas, kecuali mau kongkow2 di beberapa café yang ada, di sini juga ada hotel, jadi kalo mau nginap bisa juga. Dari Colmar kami ke Botanical Garden naik shuttle yang sudah disiapkan. Namanya botanical garden, pastinya yang banyak dilihat adalah tanaman, bunga2an dan sejenisnya. Setelah menikmati ransum yang kami bawa, kami ke Japanese tea garden, di sini bisa sewa baju kimono dan berfoto di rumah Jepang, kalo tak salah harga sewanya RM.10. Kalo mo hemat, bisa juga minta foto bareng dengan petugasnya yang semuanya memakai baju kimono :DJam sudah menunjuk angka 4, diputuskan kunjungan di Bukit Tinggi harus berakhir, karena kami masih punya destinasi lain. Sebelum balik ke rumah, kami mampir mengisi kampung tengah di Kampung Baru, sebuah pusat jajanan di Kuala Lumpur, tempatnya ruaameee. Di sini dijual mulai dari gorengan, kue tradisional, aneka minuman sampe makanan berat, sore itu saya memilih nasi krabu, nasi khas Kelantan yang row materialnya adalah nasi disiram kuah berwarna ungu dan diberi tauge, trus ditambah lauk sesuai selera, ada kari, ikan/daging, sapi lada hitam. Kalo lauknya sapi lada hitam bayarnya RM 6,5.Usai shalat magrib, sekitar jam 20.00 (waktu magrib di KL jam 19.30), kami menuju Putrajaya, pusat pemerintahan Negera Malaysia. Kok ke Pusat Pemerintahan? Emang ada urusan negara? Perginya malam-malam pula, kan kantor-kantor sudah tutup. Hehehe, kami memang sengaja memilih malam hari, karena tujuan kami adalah melihat gedung-gedung dan lampu2 di Putrajaya yang kinclong di malam hari. Setelah satu jam perjalanan, kami tiba di kota yang juga dikenal dengan nama The “Intelegent Garden City” ini. Selain sebagai pusat administrative pemerintahan Malaysia, Putrajaya juga telah menjadi tujuan wisata, karena memiliki bagunan-bangunan yang megah, pusat shoping juga kegiatan olahraga air. Tujuan pertama kami adalah Masjid Putra, atau yang lebih dikenal dengan Masjid Pink, mungkin karena kubahnya yang berwarna pink. Masjid ini bisa menampung hingga 15.000 jamaah. Untuk masuk ke Kompleks Masjid ini, bagi yang tidak menutup aurat, diwajibkan memakai baju semacam jubah yang lengkap dengan penutup kepalanya, warna jubahnyapun pink. Meski menutup aurat, saya juga minta ijin agar boleh memakai jubah pink, yaa buat kepentingan putu-putu lah ;). Sayangnya, karena kami tiba di sana saat shalat Isya sudah selesai, jadi kami tak bisa masuk hingga ke dalam masjid. Kami hanya dibolehkan jalan-jalan di selasar Masjid. Dari Masjid Pink, kami menuju Gedung Perdana Putra, kantor sang Perdana Mentri dan para mentrinya. Gedung ini dominasi warna ijo dan memilki empat kubah yang mengelilingi satu kubah utama, seperti di negeri dongeng, gedungnya benar2 megah. Katanya, arsitekturnya menggabungkan design arsitektur islam dan Mongol. Selanjutnya kami menuju Istana Kehakiman Putrajaya, wuiihhh.. kali ini serasa berada di Jerman (kaya’ pernah ke Jerman ajjah :D), gedungnya guedeeee dan kereeen, lagi-lagi dengan kubah yang megah. Bangunan2 di Putrajaya ini memang umumnya memadukan arsitektur Melayu dan Arab. Istana ini didesign berdasarkan sebuah philosophi dengan tiga asas, yaitu : keseimbangan, keadilan dan kekuatan. Di depan Istana Kehakiman ada Gedung Perbadanan Putrajaya, kantor yang mengurus tetek-bengeknya Kota Putrajaya. Modelnya modern minimalis dengan gerbang yang wokeh banget dengan lampu2nya yang megah, kalau yang ini katanya terinspirasi dari sebuah jalan utama di Isfahann, Iran dan Champ Elysees di Paris. Di depan Gedung ini ada lapangan hijau, langsung Koch-koch ho ta hai dong :DDi belakang Gedung Perbadanan ini ada Masjid Besi, satu lagi masjid keren di Putrajaya yang katanya sebagian besar materialnya adalah besi. Sekali lagi kami tak bisa masuk, karena waktu shalat sudah selesai.
Selanjutnya kami menuju Seri Wawasan Bridge, satu dari beberapa jembatan megah di Putrajaya, jembatan ini adalah kombinasi dari kabel backstays (ga ngerti juga ini jenis kabel apa :D) dan dan baja. Di jembatan ini mayan rame, ada yang sambil memotret masjid pink, memotret masjid besi, ada juga yang kongkow2 saja. Selain Seri Wawasan, di Putrajaya ada juga Seri Saujana Bridge, yang katanya jembatan pertama di dunia yang sukses mengkombinasikan dua teknik engineering yang berbeda, yaitu teknik lengkungan dan teknik cable-stayed.Puas cuci mata dan foto2, jam 11 malam kami balik ke Kuala Lumpur, trip subuh hari sudah menanti, yippiiee..  Alhamdulillah, kurang lebih jam 8 malam tanggal 17 Des 2010 saya menjejakkan kaki lagi di Bandara LCCT Kuala Lumpur, kalo bulan April lalu bersama rombongan satu erte, secara 34 orang, kali ini saya mendarat secara mandiri, maksudnyeee?? tanpa bantuan pilot gitu?? hehehe, yaa, karena ini solo backpacking, ya pastinya tak bersama teman2. Beres dengan urusan imigrasi dan bagasi, saya mencoba menghubungi Qima, teman dari Malaysian Backpacker Club (MBC) yang janji mau jemput. Ternyata oh ternyata saya tidak mengaktifkan international roaming handphone saya, dasar oon, mentang2 judul tripnya backpacking ke Sumatra, Malaysia saya anggap masih masuk Sumatra juga, so, tak perlu pake internasional roaming segala, hahahaha..eh, tak se oon itulah, ini hanya karena menganggap tak perlu saja, karena di KL-nya hanya transit dua malam saja (transit kok sampe dua malam ya :D). Tapi, gimana saya menghubungi Qima ya? Dia juga pasti tak bisa telpon ke HP saja, piye iki? Ya, meski kita sudah janjian akan ketemu di depan pintu kedatangan, saya agak deg-degan juga, padahal baru nunggu sekitar 15 menit. Mau tak mau saya harus beli SIM card Malaysia. Kalo tak salah waktu trip ke sini April lalu, teman saya sempat beli nomor Malaysia yg harganya murah meriah. Setelah cari-cari, akhirnya ketemu counter hp yang juga jualan SIM card, dan ternyata yang paling murah tuh RM 30, which is 84 ribu rupiah, isi pulsanya RM15. Duh, mayan mahal juga siy, tapi no choice euy…Setelah 20 menit, akhirnya Qima datang, yippiieee.. ternyata doski muter-muter dulu cari parkiran. Dari airport Qima mengajak saya ke tempat makan favoritnya, pas banget nih, pas lagi lapar-laparnya :D. katanya kalo lagi ingin makan seafood, dia pasti ke tempat ini, karena dia agak alergi dengan udang, tapi di tempat ini beda, alerginya pasti tak datang. Kwetiaunya juga yang terenak se Kuala Lumpur. Dan memang benar, kwiteaunya benar-benar uenyaakkk, udangnya suegeerrr. Seperti Qima, saya juga agak alergi sama udang, tapi pas makan udang disini, gatal-gatal di mulut tak kunjung datang, syukurlah. Sekitar jam 11 kami tiba di apartemen Qima, Villa Merdeka Ampang. Apartemennya wokeh sangat, seperti yang ada di drama-drama korea, hehehe. Di sini ada tiga kamar, tadinya Qima tinggal bersama tiga orang temannya, tapi sekarang tinggal berdua, karena yang satunya baru saja pindah karena baru nikah dan ikut misua. Dan selama di Kuala Lumpur, saya akan nginap di tempat yang wokeh ini ;) Karena udah capek dan kenyang (hehehe) saya langsung tepar, tak sanggup lagi berchit chat ria (bersambung..) Karena luasnya tidak begitu besar, pulau Naira sangat memungkinkan untuk bike tour. Di Hari ketiga, Pak Bakri menawarkan saya untuk keliling pulau dengan sepeda, hhm.. ide yang brilian. Jadilah hari itu saya keliling pulau mengunjungi tempat-tempat bersejarah, yang pertama saya singgahi adalah rumah Sutan Sjahrir yang juga terletak di Jl. Gereja Tua dan saat ini dijadikan museum, beberapa meter dari rumah ini terdapat rumah Captain Christopher Cole, seorang kapten angkatan laut kerajaan Inggris. Saat ini rumah sang kapten digunakan sebagai tempat belajar mahasiswa sekolah tinggi perikanan Naira. Selanjutnya saya ke arah selatan pulau, di sini terdapat benteng Nassau yang terowongannya tembus ke benteng Belgica. Sekitar 300 meter dari benteng Nassau ada Sucieteit de Harmonie dan diseblahnya terdapat istana mini yang dulunya dijadikan rumah para gubernur Belanda, istana ini menghadap langsung ke laut. Dari Istana saya menuju ke sebuah monumen, Parigi Rante, yakni sebuah sumur. Di sumur inilah pada tanggal 8 Mei 1621, empat puluh orang pemuka masyarakat Banda yang menolak klaim Belanda atas monopoli niaga pala disembelih dan dicincang oleh seregu samurai Jepang atas perintah Jan Pieterszoon Coen (gub. VOC). Di Parigi Rante ini tertulis beberapa nama tokoh-tokoh nasional yang pernah diasingkan di Pulau Banda termasuk Cipto Mangunkusumo. Dari Parigi Rante saya lanjut mengayuh sepeda saya ke Jl.Kujali untuk melihat rumah Cipto Mangunkusmo yang juga dijadikan museum, dari sini saya lanjut ke rumah Muh. Hatta di Jl. Hatta. Bung Hatta diasingkan di Naira setelah sebelumnya diasingkan di Boven Digoel. Rumah Bung Hatta ini berdampingan dengan penjara yang sampai saat ini masih digunakan. Rampung dengan tempat-tempat bersejarah di daerah selatan, saya menuju ke saya menuju ke pelabuhan yang terdapat di bagian utara Pulau Naira, di sini terdapat Masjid peninggalan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, rumah adat Namasarvar. Di Sekitar sini pula letak hotel milik Bapak Alm. Des Alwi, seorang tokoh Banda Naira. Dengan waktu dua jam saja, bike tour hari itu sudah bisa melihat bangunan-bengunan bersejarah di Naira.Setelah makan siang saya menuju pelabuhan rakyat yang letaknya di belakang hotel Delfika 2, untuk mengambil kapal ke Pulau Banda Besar. Kapal ke Banda Besar ada setiap saat hingga pukul lima sore dengan ongkos empat ribu rupiah. Butuh waktu sekitar 15 sampai 20 menit untuk tiba di Lontor, pelabuhan rakyat di Banda Besar. Di Banda Besar juga terdapat sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda, Fort Holland namanya, tidak seperti Benteng Belgica yang masih utuh dan terawat, Fort Holland ini hanya tinggal dinding batu bata yang ditumbuhi lumut. Untuk mencapai benteng ini kita harus melewati sekitar 219 anak tangga, sampe gempor deh. Karena tidak banyak peninggalan sejarah yang bisa di lihat di Banda Besar ini, selain Fort Holland dan Perigi Keramat. Saya memutuskan kembali ke Naira, hari juga sudah mulai gelap karena sepertinya sebentar lagi hujan turun. Di perjalanan pulang saya memilih duduk di atap kapal, bukan di dalam, biar puas memandang gunung Api Banda. Katanya gunung api ini masih aktif, wuihhh... jadi teringat saudara-saudara saya di Jogjakarta yang sedang mengungsi karena sang gunung Merapi sedang ’beraksi’, hmmm..semoga gunung api Banda ini selalu tenang dan damai-damai saja.Malam terakhir di Banda Naira saya habiskan dengan ngobrol dengan beberapa turis yang berkunjung ke Hotel Delfika 1 untuk meminjam buku. Di Delfika ini ada perpustakaan yang buku-bukunya adalah sumbangan para tamu yang pernah nginap disini. Selain Bud, malam itu saya juga ngobrol dengan sapasang suami istri dari London yang satu pesawat dengan saya beberapa hari lalu. Ini adalah kunjungan mereka yang ketiga di pulau ini. Sejak 2006 setiap dua tahun mereka pasti ke Banda. Mereka selalu rindu untuk berkunjung kembali ke tempat ini, untuk snorkling atau sekedar jalan-jalan mengelilingi Banda. Mereka benar-benar jatuh cinta dengan pulau ini, duh.. orang luar saja segitu cintanya dengan kampung kita, masa’ kita lebih memilih liburan ke kampungnya orang lain ya..!?! Sabtu, 6 November 2010 jam 7.20 saya menuju airport diantar Pak Bahri. Hari itu saya balik ke Ambon. Huaaaaaaa...rasanya masih mau tinggal e, masih belum puaaasss, masih ingin bersepeda ke kampung-kampung nelayan, masih ingin duduk-duduk di atas benteng sambil menikmati jus pala dan memandang gunung api Banda, masih ingin melihat warna-warni ikan dan terumbu karangnya, pokoknya masih belum puas. Ya Allah semoga saya masih diberi kesempatan untuk mengunjungi this very incridible islands, masih begitu banyak pulau dan cerita yang belum sempat saya nikmati selama di sini. P.SAgen NBA di Ambon : Ibu Lin : 081244410690Agen NBA di Banda : Pak Musri : 081380323231Harga tiket one way : Rp. 320.000. Tiket Ambon-Banda hanya bisa dibeli di Ambon begitu pula sebaliknya.Dive : 800rb (2 kali dive), diluar makan siang. Alhamdulillah, Desember tahun ini dapat kesepatan mewujudkan mimpi (halah) menjelajahi pulau sumatera. keinginan ini sebenarnya sudah ada sejak bebeberapa tahun yang lalu namun baru punya kesempatan dan duit di 2010 ini ^.^makasih banyak buat my boss yang sdah menyetujui permohoan unpaid leave saya, well.. saya akan mewujudkan rencana kita dulu, Bu ;)Tour ini akan dimulai dari pulau weh di Aceh sana trus turun ke Banda aceh, Medan, Parapat, Bukit Tinggi, Padang, Palembang, Belitung dan berakhir di Lampung eh jakarta ding untuk balik ke makassar.sebelum ke Weh, saya akan mampir di Kuala Lumpur. Kok Kuala Lumpur? buat apa? alasan pertama dan utama adalah karena tiket MKS-KL-Aceh lebih murah dibanding tiket MKS-JKT-Aceh, alasan lainnya waktu berkunjung ke KL april lalu belum sempat sowan ke istana raja:D jadi kali ini mau disempatkan ^.^O ya, trip ini juga skalian test case bersolo traveling untuk waktu yg mayan lama. Hhmm.. harusnya bukan tour namanya ya, tak apalah, biar kedengaran sedikit keren :Dsudah ada panggilan boarding, Bismillahirrahmanirrahiim...wish me enjoy this trip yaaa dan nantikan 'live report' saya from the incredible places of our country ^.^ Agenda hari kedua di Naira adalah menyelam. Meskipun biayanya membuat dompet saya berdarah-darah, tapi karena tergiur dengan cerita orang-orang bahwa keindahaan bawah laut Banda adalah salah satu yang terindah di Indonesia bahkan di dunia dan kesempatan ke Banda belum tentu datang dalam waktu dekat lagi, akhirnya saya tergoda juga. Jam 9 pagi saya menuju Hotel Delfika 2 yang letaknya tepat dipinggir laut dan berhadapan langsung dengan Gunung Api Banda. Beda dengan Delfika 1, bangunan Delfika 2 merupakan bangunan modern dengan warna orange-nya yang ngejreng-reng dan termasuk hotel yang baru di Naira. Di hotel ini saya bertemu dengan Bud seorang dive master dari California dan Ricky dari London yang juga akan dive hari itu. Hari ini adalah penyelaman mereka yang kesekian di kepulauan Banda ini. Jam 9.30 kami menuju Pulau Hatta, dive spot kami hari itu.Di perjalanan Bud sempat cerita kalo di Banda ini adalah spot terbaik yang pernah dia kunjungi, but I wonder, nobody dive here, katanya. saia no comment deh Pak. Butuh satu jam untuk tiba di tujuan kami. Pertama kali turun saya harus naik ke permukaan hingga tiga kali, karena masker yang saya gunakan selalu masuk air meski baru masuk ke dalam air, masa’ harus mask clearing setiap saat? Setelah masker saya ditukar dengan masker si buddy akhirnya bisa nyelam tanpa gangguan lagi (Lesson learn, kalo mau dive ditempat lain harus bawa peralatan selam standar sendiri, minimal masker ). Kami menyelam hingga kedalaman 30 meter dan benar kata orang-orang, pemandangan di sini memang soooooooooooo beautiful, school of fish ada dimana-mana dan beragam jenisnya, karang-karang membentuk dinding yang colorful, semua warna kayaknya ada di sini, saya juga sempat lihat seekor penyu. Sayangnya saya tidak punya kamera under water yang bisa mengabadikan keindahan tersebut Setelah menyelam selama tiga puluh menit kami break dan menuju Pulau Hatta untuk makan siang, di sana sudah menunggu teman-teman Ricky yang hari itu snorkling di Pulau ini. Usai makan siang, saya sempatkan jalan-jalan ke rumah seorang warga yang sedang mengupas buah pala, seperti di pulau-pulau lain, di Pulau Hatta ini juga mayoritas penduduknya adalah petani pala. Setelah istirahat sekitar satu jam kami lanjut untuk penyelaman kedua, rombongan kami menjadi lebih rame, karena rombongan teman-teman Ricky juga akan snorkling di tempat kami dive. Pas ancang-ancang back roll, salah seorang bule yg lagi snorkling tiba-tiba naik dan ngomong kalo dia liat ikan hiu, wuiiihh... sempat keder juga diriku. Di penyelaman kedua, kami turun hingga 25 meter, pemandangannya masih sama, tetap cantik-cantik dan colorful, subhanallah...Perjalanan pulang kami mampir di Pulau Sjahrir, Bud dan Ricky tergoda untuk snorkling setelah melihat coral-coral di bawah laut yg tampak dari atas kapal. Tiba-tiba saya melihat segerombolan benda hitam dari jauh yang bergerak perlahan-lahan, yang ternyata sekelompok lumba-lumba, ada lima kelompok yang berbaris rapi, jumlahnya sekitar lima puluh ekor, mereka tidak melompat seperti yang biasa kita lihat di Ancol, kata supir kapal kami, karena ukuran mereka cukup besar dan biasanya mereka akan melompat jika tidak sedang dalam kelompok besar seperti sekarang. Alhamdulillah ternyata tidak perlu naik kapal pelni untuk lihat lumba-lumba .Bersambung...

Masih pukul empat pagi tapi I am yours-nya Jason Mraz sudah mengalun merdu (eh, tak merdu ding, soalnya masih dini hari je) di telingaku. Duh, rasanya tak rela bangun sepagi ini, tapi rela tak rela, tetap harus bangun, jika tak mau ketinggalan pesawat yang take off jam 7 pagi ini. Ya, semalam saya memang menyetel alarm untuk bangun lebih pagi tepatnya lebih subuh hari ini, Rabu 3 Nov 2010. Setelah sukses besar dengan acara kantor kemarin sore, saatnya merayakan kesuksesan dan memanjakan diri dengan jalan-jalan . Sejak membaca novel Rahasia Meede-nya E.S Ito tahun lalu yang membuat saya jatuh cintrong sama si Kalek, Banda Naira saya masukkan ke dalam list must visit places before I die-ku. Nah, mumpung dapat tugas ke Ambon, skalian saja memanjakan dirinya dengan mewujudkan angan-angan tersebut. Pukul 5.15 saya menuju Bandara Pattimura. Perjalanan dari pusat kota Ambon ke Bandara Pattimura butuh waktu kurang lebih satu jam, mayanlah buat membayar tidur yang kurang malam tadi  Banda adalah salah satu kepulauan yang ada di Prov.Maluku, dan masuk wilayah administrasi Kab. Maluku Tengah. Kepulauan Banda terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil, seperti Pulau Banda Besar, Pulau Gunung Api, Pulau Run, Pulau Sjahrir, Pulau Hatta, Pulau Ai dan Pulau Naira sebagai ibukota kecamatan. Hmm.. Kok ada pulau Hatta dan Pulau Sjahrir ya? ini karena kepulauan Banda pernah menjadi salah satu tempat pengasingan kedua pahlawan proklamasi kita tersebut. Mereka diasingkan oleh belanda selama 6 tahun dari tahun 1936 hingga 1942. Untuk mencapai kepulauan Banda, dari Ambon ada dua pilihan, dengan kapal pelni atau dengan pesawat. Sebenarnya ingin skali naik pelni, disamping perjalanan tidak begitu lama, yakni sekitar 7 jam, dengan pelni kayaknya lebih exciting katanya pemandangannya lebih cantik, bisa liat pulau-pulau yang ada di laut Banda, juga bisa liat gerombolan ikan lumba-lumba. Namun karena jadwal kapal pelni yg hanya dua kali sebulan tidak match dengan jadwal cuti saya, pilihan saya hanyalah berangkat dengan pesawat. Pesawat yang ke Banda hanya ada satu yakni NBA (Nusantara Buana Air) yang terbang dua kali seminggu, tiap Rabu dan Sabtu. Di pesawat ini ada dua puluh seat, tapi setiap kali terbang, jumlah penumpangnya maksimal 15 orang saja. Tapi penerbangan kali ini penumpangnya cuma sepuluh orang. Seperti pesawat2 kecil lainnya, di sini tidak ada pramugari, boleh duduk di kursi mana saja dan suara mesinnya sangat bising, tapi saya sempat melanjutkan tidur loh, hehehe.. Setelah terbang kurang lebih satu jam, dari kejauhan tampaklah gunung Api Banda, itu artinya sesaat lagi pesawat kami akan landing di Pulau Naira (tips : buat yg suka fotographi kalo dari Ambon ambil seatnya di seblah kanan dari pintu masuk dan kalo meninggalkan Naira ambil yang seblah kiri, biar bisa shoot pulau-pulau di bawah). Di depan pintu keluar bandara saya langsung disambut (syukurlah tanpa embel-embel kalungan bunga. lol) sama pemilik hotel Delfika, Pak Bahri. Hotel ini direkomendasikan dan di-book-kan Pak Musri, agen NBA saat saya book tiket Banda-Ambon. Begitu memasuki kota Naira nampak bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda yang masih terawat, baik yang dijadikan rumah penduduk maupun yang dijadikan kantor pemerintah. Serasa nonton film jaman kolonial. Lima menit perjalanan dari bandara, kami tiba di Hotel Delfika 1 di Jl. Gereja Tua. Bangunan Hotel Delfika 1 ini juga bangunan kolonial yang sudah berumur ratusan tahun dan rasanya homey skali. Harga kamar di hotel ini, yang ber-AC 200rb dan 150rb yang ber-kipas angin. Begitu check-in, saya langsung disuguhi welcome snack, roti selei pala, hmm.. karena belum pernah nyoba sebelumnya rasanya agak aneh di lidah. Hotel Delfika ini terkenal memiliki es krim dan wafel yang enak se-Naira. Tak heran banyak turis yang meski tidak nginap di sini tapi sering menghabiskan waktu mereka di hotel ini. Setelah bersih-bersih diri, karena di Ambon tadi ga sempat secara masih subuh , saya lanjut mengunjungi Benteng Belgica. Sebuah benteng peninggalan Portugis yang dibangun pada tahun 1611. Benteng yang berbentuk segi lima ini terdiri dari dua tingkat, salah satu ruangan di lantai bawah benteng ini pernah dijadikan penjara pada zaman Belanda, di bagian atas benteng yang merupakan hall terbuka terdapat beberapa buah meriam. Selain saya, ada juga rombongan turis jadi kami dapat suguhan tarian tradisional (lupa namanya) dari para pelajar perempuan yang diiringi tifa totobuang yg ditabuh oleh para Ibu. Di Benteng ini saya bertemu seorang bapak yang mengajak saya untuk melihat perkebunan pala yang terletak di samping benteng. Banda memang terkenal sebagai daerah penghasil pala, yang beratus-ratus tahun lalu hanya di temukan di pulau ini, dan menjadi alasan bangsa Portugis, Inggris dan Belanda menjejakkan kakinya di Pulau ini. Bahkan pada tahun 1667 Pulau Run yang saat itu dikuasai Inggris pernah ditukar dengan Manhattan-New York, ‘milik’ Belanda dan memiliki luas jauh lebih besar dari pulau Run, karena alasan buah pala yang melimpah di pulau ini. Dulunya buah pala ini hanya bijinya saja yg dimaanfaatkan, namun saat ini daging buahnya dibuat manisan, sirup dan juga selai, bahkan obrolan masyarakat setempat saat ini kulit bijinya pun laku di pasaran. Dari benteng saya menuju Gereja Tua, yang berjarak sekitar 300 meter dari benteng Belgica. Dengan jalan kaki lima menit saya sudah tiba di depan Geraja. Gereja ini dibangun pada tahun 1852. Sebelumnya gereja ini adalah gereja Hollandische Kerk, namun hancur akibat gempa bumi. O iya, di Naira ini tidak ada mobil angkutan umum, orang-orang di sini cukup jalan kaki atau bersepeda atau naik ojek jika hendak bepergian. Karena luas wilayahnya sangat kecil. Mobil yang ada umumnya mobil milik pemerintah. Jam 3 sore saya balik ke hotel, kampung tengah minta diisi je. Karena saya penggila ikan cakalang, saya order menu nasi ikan yang memang menjadi salah satu menu di hotel Delfika, uenyaaaaaakkk….  Bersambung….
Danau Tempe, menjadi tempat gathering kami tanggal 10-11 Juli 2010 lalu. Bersama dua puluh lima orang teman dari Makassar Backpacker (MB), kami ramai-ramai mengunjungi danau ini. Tapi perjalanan kali ini sedikit beda. Kami dibagi ke beberapa kelompok dan tiap kelompok menempuh rute yang berbeda, dengan cara hitchhiking pula.Rutenya sendiri ada 3 macam :
1. Makassar – Maros – Camba – Soppeng – Sengkang 2. Makassar – Maros – Pangkep – Barru -Sengkang 3. Makassar – Maros – Pangkep - Barru – Pare-pare – Sidrap – Sengkang.
Saya dan tiga orang teman lainnya kebagian rute nomor tiga, rute yang paling jauh. Jam 9 pagi, kami mulai perjalanan dari Sudiang, Makassar, dgn pete-pete (angkot). Karena harus mengeluarkan biaya seminim mungkin, kami berusaha menawar ongkosnya. Angkot pertama ngasih tarif 9K/orang, kami tawar ke 7K tapi sang sopir menolak, pindah ke angkot lain, langsung dapat sopir yang mau ngantar ke Pasar Bungoro Pangkep dengar harga 7K/orang.
Sesaat setelah meninggalkan Sudiang, nampak teman-teman kami dari kelompok lain, sudah sukses dengan hitchhiking pertama mereka. perasaan iri langsung mendera. Wah, biaya yg mereka keluarkan pasti lebih sedikit nantinya. Kalo yang lain bisa, kenapa kami tak bisa ya? So, diputuskan sesampai di Bungoro nanti, kami juga harus cari tumpangan gratis 
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, kami tiba di Pasar Bungoro, Kab. Pangkep. Mencoba patuh pada komitmen (halah) kami coba hitchhiking, menawarkan jempol-jempol kami ke setiap mobil yang lewat . Tak perlu waktu lama, sebuah truk berhenti di depan kami (duh, knapa harus truk sih ). Sang supir mau memberi tumpangan hingga ke Desa Geresi, yang masih masuk wilayah Pangkep. Hmm…jadi ingat waktu pertama kali naik truck jaman SMA dulu. Waktu itu jadi panitia LDK, pas acara ke luar kota, semua panitia akan dijemput di rumah masing-masing, nda nyangka kalo dijemputnya pake truck, satu kompleks heboh gara-gara si truk.
Turun dari bak truk kami langsung dapat tumpangan dari Daihatsu espass, sayangnya si Bapak hanya bisa ngantar sampai daerah Mangkoso yang masih masuk Kab. Pangkep, mayanlah, gratis ini. O iya, kalau di bagian selatan Prov. Sulsel, kabupaten yang terpanjang adalah Kab. Jeneponto, maka untuk daerah utaranya, Kab. Pangkep lah yang terpanjang. Tak heran, kab. Pangkep ini tak ada habisnya
Lepas dari mulut eh mobil espass, kami dapat tumpangan lagi dari mobil avanza, hmm.. nampaknya nasib kami semakin oke saja. Si empunya mobil ternyata seorang kontraktor dari jawa, dulunya juga biasa hitchhiking, makanya doski langsung berhenti pas liat kami mengacungkan jempol. Sayangnya lagi tujuan mereka adalah Pinrang, itu artinya kami harus rela ‘diturunkan’ di Kota Pare-pare.
Di Pare-pare, kami menghabiskan waktu yang lumayan lama, agak susah mencari tumpangan gratis di dalam kota. Jadinya kami naik angkot hingga ke daerah pinggiran kota, alhamduillah, sebuah mobil Estrada berwarna kuning dan bergambar foto gubernur Sulsel berhenti didepan kami. Betul kan..?!? nasib kami semakin oke saja, Yippieee…
Sama si Bapak kami diantar sampai di Kota Sidrap. Doski juga sempat ngasih rekomendasi tempat makan burung belibis goreng yang enak di kota ini. O iya, belibis goreng ini adalah salah satu makanan yang biasa dicari, jika mengunjungi Sidrap. Harganya lumayan mahal untuk ukuran backpacker, satu porsi which is satu potong (satu potong ya, bukan satu ekor) belibis harganya 22 ribu, tapi sudah includs nasi sama satu mangkok sup, tapi nasinya bisa nambah sepuas-puasnya 
Beres dengan urusan kampung tengah, kami lanjut mengacungkan jempol di pinggir jalan, setelah diacuhkan sama beberapa mobil, akhirnya sebuah innova berhenti di depan kami, Alhamdulillah. meski harus berdempet-dempet dikursi tengah, tak apalah, yang pasti kami bisa tiba di Sengkang dengan gratis tis. Bapak yang mobilnya kami tumpangi kali ini adalah seorang pengusaha perikanan, mobil inovanya yang kinclong ini dijadikan angkutan bagi ikan-ikannya, huebaaattt…
Jam lima sore, kami terima sms dari teman-teman yang lain, ternyata tinggal kelompok kami yang belum tiba di Tempe. Padahal kami baru masuk Kab. Wajo. Mobil Inova tadi hanya bisa ngasih tumpangan hingga pertigaan masuk kota Sengkang, untungnya pas turun dari Innova ada truck yang lewat. Jadilah kami kembali ke bak truck. Kalo dirunut-runut, lucu juga tumpangan gratis kami hari ini, berawal dan berakhir dengan truk . Waktu tempuhnya juga mayan lama, delapam jam boo, padahal perjalanan normal dari terminal daya Kota Makassar ke Danau Tempe bisa ditempuh selama 6-7 Jam, dengan ongkos sekitar 50K.
Semburat jingga Sunset menyambut kami di tepi Danau Tempe, sejenak kami berleha-leha menikmati cantiknya senja di Danau Tempe sembari menikmati jajanan yang ditawarkan pkl yang ada di tepi danau tempe. Di sepanjang tepi Danau Tempe ini terdapat tembok yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk duduk2. Juga ada pasar kaget yang selalu ada di setiap sore hingga malam hari.
Puas menikmati sang senja, kami menuju pondok wisata wajo mesra, tempat kami menginap malam ini. Pondok wisata ini terletak di tengah danau, jadi kami harus menggunakan sampan untuk mencapainya. Bersampan ria ditengah gelapnya malam, ngeri juga je, jadi ingat film anaconda, gimana kalo tiba2 ada sesuatu yang melompat dari dasar danau ini, wuiiiiiiiiiiiii……
Sepuluh menit kemudian kami tiba di wajo mesra, satu-satunya penginapan yang ada di tengah danau. Pondoknya bersih, terdiri dari empat kamar yang masing-masing berisi dua buah bed yang tiap bednya muat untuk dua orang. Cukuplah untuk 25 orang, karena ruang tamu bisa dimanfaatkan bagi yang membawa sleeping Bag. Di tiap kamar juga ada kamar mandi. Beres dengan ritual bersih2, kami lanjut ritual wajib MB : perkenalan, share backpacking experiences dan yang paling ditunggu2 : games pembodohan 
Minggu subuh dimulai dengan aktifitas antri kamar mandi. Usai narsis-narsisan dengan bantuan sampan dan sunrise, kami menuju perkampungan terapung di Danau Tempe. Butuh waktu sekitar setengah jam menuju perkampungan ini, meski masih pagi, mentari sudah cukup terik. Di perjalanan ke perkampungan, tampak pohon enau dan pohon pisang di tengah danau, aneh kann? Pisang kok bisa tumbuh di dalam air. Ternyata daerah ini tadinya adalah daratan, namun karena hujan yang terus menerus, air danau meluap, akhirnya luas danau bertambah. Karena banjir inilah kami membawa obat-obatan yang kami bagikan ke masyarakat yang ada di perkampungan terapung. Rumah-rumah di perkampungan terapung ini dibagun di atas rakit, jadi jangan heran jika pagi hari sebuah pohon ada di depan rumah, sore harinya tu pohon pindah ke belakang rumah.
Usai pembagian obat2an di perkampungan terapung kami lanjut ke permandian air panas Lejja di Kab. Soppeng. Kali ini bukan dgn cara hitchhiking lagi, tak punya banyak waktu soalnya. Dengan bis, perjalanan ke Lejja ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Lejja ini salah satu tujuan wisata di Soppeng, tak heran saat kami ke sana pengunjungnya hingga ratusan orang, sampe tak nyaman rasanya berendam. Di Lejja ini ada beberapa kolam air panas yang kedalaman dan panasnya beda2. Karena di Tempe tadi tidak sempat mandi pagi, (Bukan karena malas loh, tapi karena air bersihnya terbatas ;)) di Lejja kami puas2in mandi, karena air bersihnya melimpah-pah, meski mandinya di kamar mandi yang harus antri-tri, bukan di kolam air panas. Dari Lejja kami lanjut mengunjungi rumah adat di Kab. Sidrap Rumah adat ini seperti museum, kita bisa lihat beberapa benda2 pusaka, rumah adat ini milik perorangan bukan milik pemerintah. Dan ini adalah tujuan akhir gathering kali.
Still have looooong trip to Makassar, Jam 10 malam Alhamdulillah tiba di rumah, capek tapi hati riang (jiaaaaaaaaahhh…) 
Cost : Angkot Sudiang-Bungoro: 7K Angkot di Pare2 : 5K Bentor di Sidrap : 1.5K Maksi : 22K Angkot di sengkang : 3K Bis + Penginapan : 110K Tiket Masuk Lejja : 2.5K Tiket Masuk rumah adat : 1.500K Maksi : 20K Total cost : 172.5K |  | backpacking ke Danau Tempe di Kab. Sengkang dg cara hicthhiking :)
|
|  | Makassar Enchanting adalah salah satu kegiatan di komunitas Makassar Backpakcer, yakni mengunjungi tempat-tempat wisata dan bersejarah yang ada di Kota Makassar. Ternyata masih banyak tempat-tempat menarik di Makassar yang belum pernah saya kunjungi, meski saya sudah tiga tahun lebih berdomisili di kota ini. satu lesson learn yang saya dapat berwisata tak mesti jauh-jauh dan dengan ongkos yang mahal kan? :) |
|  | Akhir tahun 2009 lalu saya bergabung dgn komunitas Makassar Backpacker (MB). Komunitas penggila jalan-jalan :D Dan ini adalah trip pertama saya bersama MB. Destinasi pertama adalah mengunjungi Jamaah An Nasir di daerah Gowa. Di sana kami sempat diskusi dgn pimpinan mereka, Ustadz Rangka. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke air terjun Parangloe. Wuihh.. ternyata ada juga air terjun yg tak kalah indahnya dgn air terjun Bantimurung. Sayangnya kami tak sempat mandi, karena airnya lumayan deras, dan air terjun ini mayan sering 'memakan' korban. Usai foto2 di airterjun perjalanan dilanjutkan ke danau Bili-bili untuk makan siang. Sekitar jam 4 sore perjalanan lanjut ke Puntondo di Kab. Takalar. |
|  | Ini adalah pengalaman pertama kali naik kapal perang, ternyata seru juga. Tgl 23-25 Oktober tahun lalu saya ikut kegiatan pemprov Sulsel mengunjungi Taman Laut Nasional (TNL) Takabonerate yang ada di Kab. Selayar. Kenapa kapal perang? karena kegiatan ini juga didukung oleh TNI AL. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar dgn menggunakan KRI Makassar menuju Kab. Selayar. Perjalanan ditempuh kurang lebih 14 Jam. Tiba di Selayar disambut dgn tarian tradisional selayar dan festival bakar ikan. Usai seremonial di Kota Benteng, Ibu kota Kab. Selayar. Expedisi dilanjutkan dengan menyelam dan tour ke gugusan pulau Takabonerate.
Takabonerate adalah salah satu Taman Laut Nasional dan katanya memiliki karang atol terbesar ketiga didunia, wuiih hebat ya.. Karena saya tidak bisa menyelam, jadi cuma ikut tour ke pulau-pulau kecilnya.
Kegiatan ini katanya akan menjadi ajang tahunan, so qta tunggu ekspedisi Takabonerate selanjutnya :) |
 | Guestbook | |
 | Hai salam kenal juga... :) |
 |
pelican1006 wrote on Aug 18, '10, edited on Aug 18, '10 Heheheh, ketemu di sini lagi di'.. btw, gimana kabar? |
 | ehm ehm........ ini tante afdal bukan yah? |
 | ALL NEW IMPORT STUFF UNDER IDR 65.000
Baju-baju baru di ja.binca ! Top...Cardi...Bolero...Dress...Skirt Lucu banget model-modelnya "easy 2 wear n' very comfortable" Yang pasti : NOT EXPENSIVE...BUT LOOK LIKE ONE ! |
 | assallammualaikum semua, di sini ada mainan anak dan second collection. harga terjangkau.monggo |
 | Hi All... BUruan Yuuuuk BeLanja di http:/Rizqiarrayy.multiply.com.. ada...:
Bantal cinta.. Bedcover.. Sprei.. tempat tissu yg Luchu-luchu, dll MUraaaah" Lowww di tunggu order nya...!!!
|
 | waduh penampakan dari belakang bikin penasaran buuuu..... |
 | bu...bu...pesenannya apa yah? koq gak muncul niy? hehehehhehehe |
 |
g2ge wrote on Aug 20, '08 Alo mba , Aku baru Upload barang baru ada Batik Lukis tangan, Jilbab, dll, mampir yuk... Makasih |
 | BELI 3 TEE DISC 10% !!! BELI 3 TEE DISC 10% !!! BELI 3 TEE DISC 10% !!! |
 | Hi…, Mampir2 dong ke Toko Lucu…, Banyak barang2 baru yang lucu dengan harga MURAH!!!!
Ditunggu Ya…., Thanks
|
| |